Sabtu, 20 Juni 2015

Kata Mereka Aku Tidak Punya Ekspresi

Pada pertama kali tampil PPL 1, aku sangat gerogi. Saking geroginya, tubuhku sampai gemetar dan pikiranku kacau hingga apa yang ingin kusampaikan blank di otakku. Ish gak banget deh... Setelah selesai, aku ditanya sama dosen pembimbing PPL, 
D : "bagaimana perasaan anda pertama kali tampil?". 
A : "Saya gerogi pak", jawabku. 
D : "Kalau begitu untuk selanjutnya gak boleh gerogi lagi, janji yaa....". 
S : "Waduh gimana ni?" pikirku dalam hati. "Bagaimana mau memastikannya pak? gerogi itu kan alami munculnya. mana ada orang yang mau gerogi, tapi itu tiba-tiba muncul sendiri".
D : "Menurutmu kira-kira bagaimana caranya untuk mengatasi gerogi?"
A : "Latihan sering-sering pak", tapi biasanya gerogi itu datang sendiri pak".
D : "Pokoknya minggu depan dag boleh gerogi lagi, saya ingatkan janji tu".
A : "Mak e, Bapak ini maksa", pikirku...
Setelah hari itu, aku merasa sangat beban. aku takut gerogi lagi, karena aku orangnya memang gerogian kalau tampil di depan orang. Aduuh gimana sich Weli, kamu kan calon guru, seharusnya kamu gak boleh gerogi begitu, malu tau... Hmm sebenarnya aku juga gak mau kayak gini. tapi beginilah kenyataannya. selalu tidak PD di depan.

Pada PPL minggu selanjutnya, aku sudah mempersiapkan diri dengan berlatih berbicara. Saat berlatih, ada suatu materi yang membuatku bingung tentang suatu konsep yang mengganjal di hatiku. Tapi hal itu tidak kutindak lanjuti dan aku ikut saja konsepnya. Setelah aku tampil, dosen bertanya padaku bagaimana menurutku penampilanku hari ini. aku menjawab kalau aku sudah bisa mengatasi gerogiku, tapi sepertinya ada yang kurang jelas dalam penjelasanku karena materinya yang terlalu banyak. Ya... benar kan? Dosenku bilang, "kamu memang kurang penjelasan, dan ada yang salah konsep". Naah itu dia yang mengganjal di pikiranku sebelum aku tampil. Bodoh sekali sich weli? ngapa tak dipastikan dulu konsepnya sebelum tampil? aduh duh duh.... Fatal fatal..... 
Tapi walau banyak kekurangan, tapi dosenku bilang sudah ada sedikit kemajuan dari penampilanku, yaitu gak gerogi lagi... Ye ye... akhirnya aku bisa mengatasi gerogiku... :-D
Lalu untuk penampilan selanjutnya, kami telah mengocok undian. Ini adalah kocokn ketiga kalinya dan aku mendapatkan no. 3 secara berturut-turut dari undian pertama. Wah wah memank hoki 3 kayaknya aku ni... Haha...
Lalu ketika jadwal temanku tampil, dosen mengatakan kalau pertemuan ke-3 kami harus pakai kurikulum 2013 dan ada praktikumnya. Hmm ini ni yang buat aku gak suka. Bilangnya mendadak, dan memaksakan harus praktikum. Sejak itu aku jadi malas PPL. Tapi tetep harus dikerjakan donk tugasnya... 
Hingga pembagian materi, aku mendapatkan materi sel volta, hmm... gimana mau praktikum sederhana kalau materinya kayak gitu... ya udah aku ganti materi aja. aku ambil tentang sifat koligatif larutan. kita buat es krim aja... haha
Saat tiba waktunya untuk PPL ke 3, kami sudah menunggu dosen. Tiba-tiba dia bilang tidak PPL karena dia ada urusan. Hmm pak e ngapa dag bilang dari tadi. Untung aja aku belum membeli es batu. Tapi sebenarnya kami juga belum siap untuk tampil. Jadi perasaan ini senang tapi juga sedikit kecewa karena di PHP-in sama dosen... ckckck
Lalu, tiba waktunya kami tampil pada pertemuan ke-3. Sebenarnya aku tidak terlalu mempersiapkan penampilanku. karena aku sudah tidak bersemangat dari awal. Aku tidak menuliskan apa yang ku jelaskan dan tidak menampilkan penjelasan di PPT. Hmm hmm hmm. Karena aku bingung sebenarnya mau menyampaikan apa. Ku pikir kalau mengajar pakai praktikum itu tidak perlu banyak bicara. Ya itu memank benar, tapi perlu juga nulis kali... 
Lalu komentar dari dosen, " Seharusnya apa yang kamu jelaskan itu kamu tulis". yah aku memank benar-benar ya...
lalu dosen bilang lagi "saya lihat kamu itu gak berekspresi, cobalah berekspresi, jangan datar". 
hmm ini dia ni... ngapa dag dari kemaren-kemaren komentar ekspresi? ngapa baru sekarang?
Hingga saat ujian PPL, aku sudah mempersiapkan segala kelengkapan yang kuperlukan seperti media, RPP, dll. Ketika aku tampil, aku merasakan ada materi yang membuatku sedikit bingung dan ditanyakan oleh teman yang berperah seolah-olah sebagai siswa. Truz aku menjawabnya dengan tidak yakin. dan akhirnya aku menemukan salah konsep pada penjelasanku. yah... salah lagi kan?
Dari penilaian dosen, media dan RPPku tinggi tapi sayang sekali, cara mengajar dan aktivitasku kurang. Eh? aku rasa aktivitasku itu sudah lumayan aktif kok di kelas. Kok bisa gitu nilainya? Sebenarnya aku tidak terima dengan hal itu. terus dosen bilang, aku kurang pandai menguasai kelas dan lagi-lagi ekspresiku dipermasalahkan oleh dosen. Gimana ya caranya berekspresi biar gak dibilang datar? padahal aku merasa sudah berusaha mengekspresikan wajahku, tapi kata mereka aku tak berekspresi. Kata mereka sepertinya aku menyimpan suatu beban di pikiranku hingga aku kelihatan khawatir dan tak berekspesi. Mungkin itu karena rasa gerogiku yang susah disembunyikan atau itu memank ekspresiku. aku orangnya memang sulit untuk terlalu lebay dalam keadaan serius seperti itu. walau kelihatannya tidak lebay, tapi aku merasa lebay. Andai mereka mengeri dengan keadaanku. Wajahku memank seperti ini. aku hanya bisa mengekspresikan wajahku ketika aku benar-benar PD, senang dan bersemangat. Tapi itu sulit kudapatkan ketika aku tampil di depan karena aku gerogi. Akhirnya dosen memberiku nilai B. Eh agak kecewa. Lalu aku diberi kesempatan untuk mengulang satu kali lagi. 
Di rumah, aku telah berusaha untuk mengekspresikan wajahku agar tidak dibilang datar lagi. dan ketika aku tampil, aku gemetaran. Ih gak banget deh. ngapa bisa segerogi itu? padahal aku sudah mempersiapkan semuanya. 
Ya dapat komentar tak berekspresi lagi dari dosen, dan ada 1 orang temanku yang pengolok. sejak saat itu, dia jadi suka mengolok tentang ekspresiku, sepertinya dia bahagia sekali. Ih aku gak suka sebenarnya digitukan. diam-diam ngapa?...
Tapi alhamdulillah aku dapat A, walaupun nilai mengajarku rendah gara-gara ekspresi, tapi nilai mediaku bagus. tidak sia-sia aku mempersiapkannya. Tapi sebenarnya aku agak kecewa karena targetku belum tercapai. Harapanku aku bisa dapat nilai lebih tinggi lagi.Jadi ketika dosen bilang aku mendapat nilai A dengan rata-rata 3,5, aku tidak menunjukkan ekspresi bahagia. aku tidak berekspresi. dan dosen ngomong di belakang "lihatlah dag ada ekspresinya lagi". Andai mereka tau apa yang ku pikirkan. aku begitu karena aku memank tidak puas dengan penampilanku. Aku melakukan kesalahan dengan tidak menuliskan penjelasanku di papan tulis. Tuh kan weli lupa lagi... Ngapa sih jadi orang pelupa banget? Hmm
ya udahlah, semua kekurangan ini akan kujadikan pelajaran untuk PPL 2. Semoga aku bisa mengatasi semua kekuranganku di PPL 2 nanti dan aku berharap mendapatkan sekolah yang terbaik dan cocok untukku.

Jumat, 19 Juni 2015

Sahabat or No?

Saat ini aku telah keliru dalam membedakan teman, dan sahabat. ku kira dia seorang sahabatku. Tapi ternyata aku salah. Kupikir dia adalah seseorang pendengar setiaku tanpa menjatuhkanku di depan orang lain dengan kelemahan-kelemahanku. tapi saat ini aku sadar bahwa dia bukanlah sahabatku. dia hanyalah seorang musuh dalam selimut. yang baik padaku ketika ada maunya. tapi ketika aku lemah, dia malah memanfaatkan kelemahanku. Sekarang aku tau, dia bukanlah sahabatku. Thanks telah menyadarkanku....

Jumat, 21 November 2014

Makalah Pencemaran Tanah Oleh Minyak Bumi


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Tanah merupakan bagian penting dalam menunjang kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Kita semua tahu Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Salah satu kekayaan tersebut, Indonesia memiliki tanah yang sangat subur karena berada di kawasan yang umurnya masih muda, sehingga di dalamnya banyak terdapat gunung-gunung berapi yang mampu mengembalikan permukaan muda kembali yang kaya akan unsur hara.
Namun seiring berjalannya waktu, kesuburan yang dimiliki oleh tanah Indonesia banyak yang digunakan sesuai aturan yang berlaku tanpa memperhatikan dampak jangka panjang yang dihasilkan dari pengolahan tanah tersebut. Salah satu diantaranya, penyelenggaraan pembangunan. Pembangunan kawasan industri di daerah-daerah pertanian dan sekitarnya menyebabkan berkurangnya luas areal pertanian, pencemaran tanah dan badan air yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil/produk pertanian, terganggunya kenyamanan dan kesehatan manusia atau makhluk hidup lain.
Sebagian tanah Indonesia tercemar oleh polusi yang diakibatkan oleh perilaku masyarakat. Pencemaran ini menjadikan tanah rusak dan hilang kesuburanya, mengandung zat asam tinggi, berbau busuk, kering, mengandung logam berat, dan sebagainya sehingga tanah akan sulit untuk dimanfaatkan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana minyak bumi dapat mencemari tanah?
2.      Apakah akibat dari pencemaran tanah oleh minyak bumi?
3.      Bagaimana cara penanggulangan pencemaran tanah oleh tumpahan minyak bumi?
4.      Apa yang dimaksud dengan metode bioremediasi pada penanggulangan pencemaran tanah oleh minyak bumi?
5.      Apa peran isolat bakteri pada proses bioremediasi?
6.      Bakteri apa yang dapat mendegradasikan hidrokarbon pada proses bioremediasi?

C.     Tujuan
1.        Mengetahui bagaimana minyak bumi dapat mencemari tanah
2.        Mengetahui akibat dari pencemaran tanah oleh minyak bumi
3.        Mengetahui solusi untuk mengatasi pencemaran tanah
4.        Mengetahui yang dimaksud dengan metode bioremediasi pada penanggulangan pencemaran tanah oleh minyak bumi
5.        Mengetahui peran isolat bakteri pada proses bioremediasi
6.        Mengetahui apa yang dapat mendegradasikan hidrokarbon pada proses bioremediasi


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 150 tahun 2000 tentang Pengendalian kerusakan tanah untuk produksi bio massa: “Tanah adalah salah satu komponen lahan berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organik serta mempunyai sifat fisik, kimia, biologi, dan mempunyai kemampuan menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.” Tetapi apa yang terjadi, akibat kegiatan manusia, banyak terjadi kerusakan tanah. Di dalam PP No. 150 th. 2000 di sebutkan bahwa “Kerusakan tanah untuk produksi biomassa adalah berubahnya sifat dasar tanah yang melampaui kriteria baku kerusakan tanah”.
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.
Salah satu penyebab utama dari pencemaran tanah adalah aktivitas penambangan. Salah satu jenis penambangan yang paling banyak menyebabkan pencemaran bagi tanah adalah penambangan minyak. Pencemaran ini terjadi tidak hanya terbatas pada saat kegiatan penambangannya saja, tapi juga pada saat pengolahan dan pendistribusian hasil tambang tersebut.
Industri minyak bumi memiliki potensi sebagai sumber dampak terhadap pencemaran air, tanah dan udara baik secara langsung maupun tidak langsung. Minyak yang merembes ke dalam tanah dapat menyebabkan tertutupnya suplai oksigen dan meracuni mikroorganisme tanah sehingga mengakibatkan kematian mikroorganisme tersebut. Tumpahan minyak di lingkungan dapat mencemari tanah dan perairan hingga ke daerah sub-surface dan lapisan aquifer air tanah. Jumlah tanah yang terkontaminasi minyak bumi yang dihasilkan dalam proses produksi minyak telah meningkat ribuan ton setiap tahun di Indoesia.
Banyak  senyawa-senyawa organik yang terbentuk di alam dapat didegradasi oleh mikroorganisme bila kondisi  lingkungan menunjang proses degradasi tersebut. Artinya, pencemaran lingkungan oleh polutan-polutan organik dapat dengan sendirinya dipulihkan. Namun  pada beberapa lokasi terdapat senyawa organik alami yang resisten terhadap biodegradasi sehingga senyawa tersebut akan terakumulasi di dalam perut bumi. Hidrokarbon minyak bumi merupakan kontaminan yang paling luas yang mencemari lingkungan. Kecelakaan tumpahan minyak yang terjadi sering mengakibatkan kerusakan lingkungan yang serius. Tingkat pencemaran yang berat mampu membunuh berbagai jenis organism air atau tanah dan menyebabkan lingkungan mengalami kerusakan yang bersifat permanen
Menurut Leahy dan Colvell (1990), biodegradasi oleh mikroorganisme merupakan salah satu cara yang tepat, efektif, dan hampir tidak ada pengaruh sampingan pada lingkungan karena tidak menghasilkan racun ataupun peledakan jumlah bakteri (blooming). Mikroorganisme ini akan mati seiring dengan habisnya minyak mentah.

BAB III
PEMBAHASAN
Salah satu penyebab pencemaran tanah dapat disebabkan oleh tumpahan minyak bumi seperti yang kami kaji pada jurnal yang ditulis oleh Junaidi, Muyassir, Syafruddin berjudul “Penggunaan Bakteri Pseudomonas Fluorescens dan Pupuk Kandang Dalam Bioremediasi Inceptisol Tercemar Hidrokarbon”. Adapun penjelasanya sebagai berikut:

a.       Pencemaran Tanah Oleh Minyak Bumi
Tanah dikatagorikan subur apabila tanah mengandung cukup nutrisi bagi tanaman maupun mikro organisme, dan dari segi fisika, kimia, dan biologi memenuhi untuk pertumbuhan. Tanah dapat rusak karena terjadinya pencemaran tanah. Pencemaran tanah dapat terjadi salah satunya diakibatkan oleh tumpahan minyak bumi. Pencemaran  minyak  bumi  pada  tanah merupakan  ancaman  yang  serius  bagi kesehatan  manusia.
Inceptisol merupakan tanah yang tersebar luas  di  Indonesia  terutama  di  daerah  perairan yang  rentan  terhadap  pencemaran  akibat tumpahan  minyak  atau  oli.Tanah  Inceptisol yang  mengandung  jenis  mineral  liat  termasuk tanah  pertanian  utama  di  Indonesia  karena mempunyai  sebaran  yang  sangat  luas. Tanah inceptisol memiliki kadar posfor rendah, sedangkan kadar alumunium dan zat besinya tinggi. Keasaman yang dikandung jenis tanah ini antara 5,0 sampai dengan 7 dengan tingkat kejenuhan 0-72 persen. Oleh karena itu, tanah ini termasuk tanah yang memiliki tingkat keasaman sedang.
Apabila  pencemaran terjadi oleh tumpahan minyak/oli yang mengandung senyawa  hidrokarbon  sebagai  bahan  pencemar  akan menjadi  masalah  terhadap  kesuburannya.  Oleh karena  itu  diperlukan  suatu  teknik  untuk pemulihan.
Pencemaran  tanah  yang  disebabkan  oleh tumpahan  minyak  mentah  (crude  oil)  atau hidrokarbon  merupakan  masalah  utama  di seluruh dunia. Di Asia, penurunan  produktivitas  lahan  karena  polusi tanah, air dan udara merupakan masalah utama dalam  meningkatkan  produktivitas  pertanian, terutama  untuk  menjamin  keamanan  pangan. Indonesia,  sebagai salah satu negara rawan bencana dan pengguna minyak  mentah  (hidrokarbon),  perlu  untuk menemukan  cara-cara  dan  metode  yang  tepat untuk  menangani  tanah  yang terkontaminasi, terutama  polusi  yang  disebabkan  oleh hidrokarbon. Oleh  karena  itu  untuk  mengembalikan kualitas  lahan  perlu  dilakukan  suatu  usaha perbaikan.
Dalam makalah kali ini kami khusus membahas tentang pencemaran tanah oleh limbah minyak bumi. Penanganan Salah  satu  usaha  perbaikan  lahan  tercemar  limbah  dapat  diupayakan  melalui  bioremediasi  dan  pemupukan.  Bioremediasi  adalah suatu  teknik  rehabilitasi  lahan dengan  menggunakan  mikroorganisme  untuk  mendegradasi bahan  atau  zat-zat  pencemar  pada  lahan, misalnya  :  limbah  racun,  pestisida,  sampah, senyawa  organik  (minyak)  dan  logam-logam berat.
Bioremediasi  merupakan  pemanfaatan mikroorganisme  untuk  mengurangi  polutan  di lingkungan.  Saat  bioremediasi  terjadi,  enzim. Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air). Enzim  yang  diproduksi  oleh  mikroorganisme memodifikasi  polutan  beracun  dengan  mengubah  struktur  kimia  polutan  tersebut,  sebuah peristiwa  yang  disebut  biotransformasi.  Jenis mikroba rekombinan yang diciptakan dilaboratorium  dapat  lebih  efisien  dalam  mengurangi polutan. Mikroorganisme  rekombinan  yang  diciptakan  dan  pertama  kali  dipatenkan  adalah bakteri  "pemakan  minyak".Bakteri  ini  dapat mengoksidasi  senyawa  hidrokarbon  yang umumnya  ditemukan  pada  minyak  bumi.salah satu bakteri pemakan minyak bumi adalah  Pseudomonas fluorescens. Bakteri  ini  merupakan  bakteri hidrokarbonoklastik  yang  mampu  mendegradasi  berbagai  jenis  hidrokarbon,  karena memiliki kemampuan  dalam  memproduksi biosurfaktan  yang  berkaitan  dengan keberadaan enzim regulatori. Menurut  Gunalan  (1996), bioremediasi merupakan  salah  satu  teknologi  inovatif  untuk mengolah  kontaminan,  yaitu  dengan  memanfaatkan mikroba, tanaman, enzim tanaman atau enzim mikroba.
Degradasi  hidrokarbon  dalam  tanah dipengaruhi  oleh  beberapa  faktor  antara  lain temperatur,  kadar  air,  bahan  organik  tanah dan biota  tanah  serta  pasokan  hara  (pemupukan). Selanjutnya Lin et al. (1999) menyatakan bahwa aplikasi pupuk dapat meningkatkan  pertumbuhan  dan populasi mikroba tanah, meningkatkan respirasi  mikroba tanah dan  berpotensi  meningkatkan  biodegradasi hidrokarbon di dalam tanah.
Sartika  (2005)  dalam  penelitiannya menyimpulkan  bahwa  hasil  percobaan  biodegradasi  menunjukkan  bahwa  minyak  mentah (hidrokarbon)  mudah  terdegradasi  oleh  mikroorganisme.  Konsentrasi  hidrokarbon  petroleum atau  indeks  petrolium  hidrokarbon  (IPH) menurun  antara 20,51  -  44,08%  dalam  14  hari setelah  diperlakukan  dengan  pupuk  dan tanaman.  Bioremediasi  dengan  pengaplikasian pupuk  dapat  mengurangi  secara  signifikan target total normal hidrokarbon (TTNH) sebesar 81  %  dan  total  target  aromatik  hidro-  karbon  (TTAH)  17%,  dibandingkan  dengan  perlakuan kontrol  (Lin  et  al,  1999).  Dalam  hal  ini  isolat bakteri  dan  pupuk  kandang  layak  diuji coba untuk merangsang pertumbuhan mikroba tanah khususnya pendegradasi hidro- karbon.


BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Penggunakan bakteri Pseudomonas fluorescens pada proses bioremediasi yang mampu mendegradasikan berbagai jenis hidrokarbon pada tanah inceptisol yang terkontaminasi minyak bumi, dimana hidrokarbon sebagai  bahan  pencemar terhadap  kesuburan tanah
  


  
DAFTAR PUSTAKA
Budianto, Hery.2009. Perbaikan Lahan Terkontaminasi Minyak Solar Secara Bioremediasi. Online.( http://www.iec.co.id/bioremediasi1.html. Diakses tanggal 30/09/2014)
Junaidi,dkk.2013.Jurnal Konservasi Sumber Daya Lahan. Pascasarjana Universitas Syiah Kuala.



Selasa, 09 September 2014

Makalah Kation Golongan II Sub Arsenik

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Analisis kualitatif yang bertujuan utama untuk mengenali komposisi atau struktur bahan kimia, cukup banyak jenisnya, sesuai dengan jenis bahan kimia yang terdapat dalam sampel. Analisis kualitatif untuk bahan organik biasanya menjadi bagian kajian dari kimia organik sehingga tidak dimasukkan dalam bagian kimia analitik. Bahan kimia dalam sampel organik juga cukup banyak ragamnya sesuai dengan struktur dari bahan tersebut. Bahan kimia organik molekuler berbeda cara penetapannya dengan bahan kimia anorganik ionik.
Analisis kualitatif kation secara sistematis telah berkembang cukup lama. Berkat kajian yang dilakukan oleh Karl Remegius Fresenius sejak tahun 1840. Pengujian pada setiap kation memiliki reagen-reagen tertentu atau biasa dikenal dengan reagen spesifik. Pada setiap kation reagen yang digunakan berbeda-beda tergantung pada golongan masing-masing. Maka dari itu pada makalah ini kami akan membahas tentang kation golongan II (sub golongan arsenik) yang memiliki reagen spesifik yaitu hidrogen sulfida. 
B.       Rumusan Masalah
Bagaimana mengidentifikasi adanya kation secara kualitatif?   
C.       Tujuan Percobaan
Identifikasi adanya kation secara kualitatif dengan reaksi uji dengan reagen-reagen tertentu.
D.      Manfaat Percobaan
Manfaat dari percobaan ini ialah dapat mengetahui adanya kation dengan secara kualitatif dengan mengetahui reaksi  uji spesifiknya.





BAB II
PEMBAHASAN
A.      Arsenik
Arsenik, As (Ar : 74,92). Arsenik adalah zat padat yang berwarna abu-abu seperti baja, getas dan memiliki kilp logam. Jika dipanaskan, arsenik bersublimasi dan timbul bau seperti bawang putih yang khas; ketika dipanaskan dalam aliran udara yang bebas, arsenik terbakar dengan nyala biru, menghasilkan asap putih arsenik (III) oksida, As4O6. Semua senyawa arsenik beracun. Unsur ini tak larut dalam asam klorida, dan asam sulfat encer, menghasilkan ion arsenit, dan dalam asam nitrat pekat atau dalam air raja atau dalam larutan natrium hipoklorit, membentuk arsenat.
Ada dua deret senyawa arsenik yang umum : yaitu dari arsenik (III) dan arsenik (V). Senyawa – senyawa arsenik (III) dapat diturunkan dari arsenik trioksida amfoter, As2O3, yang menghasilkan garam, baik dengan asam kuat (misalnya arsenik (III) klorida, AsCl3), maupun dengan basa kuat (misalnya natrium arsenit, Na3AsO3). Maka dalam larutan yang sangat asam ion arsenit (III), adalah stabil.
a.         Reaksi – Reaksi ion Arsenik (III)
Larutan arsenik (III) oksida, As2O3 0,1M, atau natrium arsenit, Na3AsO3, dapat dipakai untuk eksperimen ini. Arsenik (III) oksida tak alarut dalam air dingin, tetapi dengan mendidihkan campuran selama 30 menit akan larut dengan sempurna. Campuran dapat didinginkan tanpa bahaya akan mengendapnya oksida.
1.        Hidrogen Sulfida H2S : Endapan Kuning Arsenik (III) Sulfida:
2As3+ + 3H2S → As2S3 + 6H+
Larutan harus sangat bersifat asam ; jika tak terdapat cukup asam, hanya akan terlihat larutan berwarna kuning, karena terbentuknya koloid As2O3. Endapan tak larut dalam larutan asam klorida pekat, tetapi larut dalam asam nitrat pekat panas :
3As2S3 + 26 HNO3 + 8 H2O → 6AsO43- + 9SO42- + 42H+ + 26NO
2.        Perak nitrat (Ag2NO3) : endapan kuning perak arsenit dalam larutan netral (perbedaan dari arsenat) :
AsO33- + 3Ag + → Ag3AsO3
Endapan larut baik dalam asam nitrat (a), maupun amonia (b) :
Ag3AsO3 + H+ → H3AsO3 + 3Ag+
Ag3AsO3 + 6NH3 → 3[Ag(NH3)]
3.        Larutan tembaga Sulfat (CuSO42- ) : endapan hijau tembaga arsenit (hijau Scheele), yang dirumuskan berbeda-beda sebagai CuHAsO3 dan Cu3(AsO3)2. xH2O, dari larutan netral. Endapan melarut dalam asam, dan juga dalam larutan amonia dengan membentuk larutan biru. Endapan juga melarut dalam larutan natrium hidroksida ; ketika dididihkan, tembaga (I) oksida mengendap.
4.        Kalium tri-iodida (larutan iod dalam kalium iodida) : mengoksidasikan ion arsenit sambil kehilangan warna :
AsO33- + I3- +H2O → AsO43- + 3I- + 2H+
Reaksi ini dapat balik dan akan mencapai kesetimbangan. Jika ion hidrogen yang terbentuk dalam reaksi ini ini, dihilangkan dengan menambahkan Natrium hidrogen karbonat sebagai buffer.
5.        Larutan timah (II) klorida dan asam klorida (Uji Bettendorff). Beberapa tetes larutan arsenit ditambahkan pada 2ml asam klorida pekat dan 0,5 ml larutan timah (II) klorida jenuh, dan larutan dipanaskan perlahan-lahan ; larutan menjadi coklat tua dan akhirnya hitam, disebabkan oleh memisahnya arsenik unsur:
2As3+ + 3Sn2+ → 2As↓ + 3Sn4+
b.        Reaksi-reaksi ion arsenat (arsenik (V))
1.        Hidrogen sulfida : tak terjadi endapan segera dengan adanya asam klorida encer. Jika aliran gas diteruskan, campuran arsenik (III) sulfida, As2S3, dan belerang mengendap dengan lambat. Pengendapan akan lebih cepat dalam larutan panas.
AsO43- + H2S → AsO33- + S ↓ + H2O
2AsO33- + 3H2S + 6H+ → As2S3 ↓ + 6H2O
Jika asam klorida pekat yang sangat berlebihan terdapat dalam larutan, dan hidrogen sulfida dialirkan dengan cepat dalam larutan yang dingin itu, mengendaplah arsenik pentasulfida, As2S5, yang kuning; dalam larutan panas,endapan terdiri dari campuran tri-dan penta-sulfida.
2.        Perak nitrat : endapan merah kecoklatan, perak arsenat Ag3AsO4, dari larutan netral (perbedaan dari arsenik dan pospat, yang menghasilkan endapan-endapan kuning. Endapan larut dalam asam dan amonia, tetapi tak larut dalam asam asetat.
AsO43- + 3Ag+ → Ag3AsO4
Reaksi ini dapat dipakai sebagai uji yang peka terhadap arsenik, secara berikut. Uji ini hanya dapat dipakai bila tidak ada ion-ion kromat heksasianoferat (II) da (III), yang juga memberi garam-garam perak yang berwarna yang tak larut dalam asam asetat.
3.      Campuran magnesia: endapan kristal putih megnesium amonium arsenat Mg(NH4)AsO4.6H2O, dari larutan netral atau amoniakal (perbedaan dari arsenit):
AsO43- + Mg2+ → MgNH4AsO4
Ketika endapan putih ini diolah dengan larutan perak nitrat yang mengandung beberapa asam asetat terbentuk perak arsenat merah (perbedaan dari fosfat):
MgNH4AsO4 ↓ + 3Ag+ → Ag3AsO4 ↓ + Mg2+ + NH4+
4.      Larutan Amonium molibdat: bila regensia ini dan asam nitrat ditambahkan dengan sangat berlebihan kepada larutan suatu arsenat kita memperoleh e3ndapan kristalin berwarna kuning, yaitu amonium arsenomolibdat, (NH4)3AsMo12O40, dengan mendidihkan (perbedaan dari arsenit yang tak memberi endapan, dan dengan fospat yang menghasilkan endapan dalam keadaan dingin atau dengan memanaskan perlahan-lahan). Endapan ini tak larut dalam asam nitrat, tetapi larut dalam larutan amonia dan dalam larutan basa alkali.
AsO43- + 12MoO42- + NH34+ + 24H+ → (NH4)3AsMo12O40 ↓ + 12H2O
Endapan sebenarnya mengandung ion trimolibdat (Mo3O102-); setiap ion menggantikan satu oksigen dalam AsO43-. Jadi komposisi endapan seharusnya ditulis sebagai (NH4)3[As(Mo3O10)4].
5.      Larutan uranil asetat: endapan seperti gelatin berwarna kuning muda, uranil amonium arsenat UO2(NH4)AsO4.xH2O, dengan adanya amonium asetat berlebihan. Endapan larut dalam asam mineral, tetapi tak larut dalam asam asetat. Bila pengendapan dilakukan dari larutan suatu arsenat yang panas, endapan akan diperoleh dalam bentuk granul (butiran kasar).
AsO43- + UO22+ + NH2+ → UO2NH4AsO4
B.       Stibium
Stibium adalah logam putih keperakan yang mengkilap, dan meloebur pada 360oC. Stibium tak larut dalam asam klorida, dan dalam asam sulfat encer. Dalam asam sulfat pekat yang panas ia melarut perlahan-lahan dengan membentuk ion stibium (III):
2Sb + 3H2SO4 + 6H+ → 2Sb3+ + 3SO2 ↑ + 6H2O
a.         Reaksi-reaksi ion stibium (III)
1.        Hidrogen sulfida: endapan merah jingga stibium tri sulfida, Sb2S3, dari larutan-larutan yang tak terlalu asam. Endapan larut dalam asam klorida pekat panas (perbedaan dan metode pemisahan dari arsenik (III) sulfida dan merkurium (II) sulfida), dalam amonium polisulfida (membentuk tioantimonat), dan dalam larutan hidroksida alkali (membentuk antimonit dan tioantimonit).
2Sb3+ +3H2S → Sb2S3 ↓ + 6H+
Sb2S3 ↓ + 6HCl → 2Sb3+ + 6Cl- + 3H2S ↑
Dengan mengasamkan larutan tioantimonat dengan asam klorida mula-mula stibium pentasulfida diendapkan tetapi biasanya terurai sebagian menjadi sulfida dan belerang:
2SbS43- + 6H+ → Sb2S5 ↓ + 3H2S ↑
Sb2S5 ↓ → Sb2S3 ↓ + 2S ↓
2.        Larutan Natrium Hidroksida atau Amonia: endapan putih stibium (III) oksida terhidrasi Sb2O3.xH2O, yang larut dalam larutan basa alkali yang pekat (5 M) membentuk antimonat.
2Sb3+ + 6OH- → Sb2O3 ↓ + 3H2O
Sb2O3 ↓ + 2OH- → 2SbO2- + H2O
3.        Zink: dihasilkan endapan hitam yaitu stibium. Jika sedikit larutan stibium klorida itu dituangkan diatas lembaran tipis platinum dan sekeping logam zink ditaruh diatas lembaran itu, terbentuk noda hitam stibium diatas platinum; noda (atau endapan) itu harus dilarutkan dalam sedikit asam nitrat encer panas, dan hidrogen sulfida dialirkaqn kedalam larutan setelah diencerkan; maka kita akan memperoleh endapan jingga, stibium trisulfida.
2Sb3+ + 3Zn ↓ → 2Sb ↓ + 3Zn2+
Sedikit stibina SbH3 mungkin dilepaskan, bila zink yang dipakai; maka lebih baik dipakai timah
2Sb3+ + 3Sn ↓ → 2Sb ↓ + 3Sn2+
4.        Kawat besi: endapan hitam stibium ini dapat dipastikan dengan cara yang diuraikan pada reaksi diatas
2Sb3+ + 3Fe → Sb ↓ + 3Fe2+
5.        Larutan kalium iodida: warna menjadi merah karna pembentukan garam kompleks.
Sb3+ + 6I- → [SbI6]3-
b.        Reaksi-reaksi stibium (V)
Ion stibium (V) diturunkan dari oksida amfoter Sb2O5. Dalam asam, oksida ini melarut dengan membentuk kation stibium (V), Sb5+.
Sb2O5 + 10H+ ↔2Sb5+ + 5H2O
Jadi, dalam larutan asam yang terdapat adalah ion Sb5+. Di lain pihak, dalam alkali-alkali, ion antimonat SbO43- yang terbentuk :
Sb2O5 + 3OH- ↔ 2SbO43- + 3H+
Jadi dalam suasana basa, yang terdapat dalam larutan adalah SbO43-. SbO43- adalah rumus yang disederhanakan dari komposisi ion antimonat; sebenarnya ia berada dalam bentuk terhidrasi, yang boleh dinamakan heksahidroksoantimonat (V).
1.        Hidrogen Sulfida (H2S) : endapan merah-jingga stibium pentasulfida, Sb2S5, dalam larutan yang sedang asamnya. Larutan ini larut dalam larutan amonium sulfida (menghasilkan tioantimonat)., dalam larutan hidroksida alkal, dan juga dilarutkan oleh asam klorida pekat dengan pembentukan stibium triklorida dan pemisahan belerang. Garam tio ini terurai oleh asam, padamana pentasulfida diendapkan.
2Sb5+ + 5H2S → Sb2S5↓ + 10 H+
Sb2S5 ↓ + 3S2- → 2SbS43-
Sb2S5 ↓ + 6OH- → SbSO33- + SbS43- + 3H2O
Sb2S5 ↓+ 6H+ → 2Sb3+ + 2S↓ + 3H2S ↑

2.        Air : endapan putih garam-garam basa dengan komposisi yang bermacam-macam; pada akhirnya akan terbentuk antimonat :
Sb5+ + 4H2O ↔ H3SbO4 ↓ + 5H+
Endapan melarut baik dalam asam maupun basa – basa alkali (tetapi tidak dalam karbonat-karbonat logam alkali).
H3SbO4 ↓ + 5H+ ↔ Sb5+ + 4H2O
H3SbO4 ↓ + 3OH- ↔ SbO43- + 3H2O
3.        Zink dan Timah : endapan stibium dengan adanya asam klorida:
2Sb5+ + 5Zn ↓ →+ 5 Zn2+
2Sb5+ + 5Sn ↓ →2Sb ↓ + 5Sn2+
Sedikit stibina (5SbH3) turut dihasilkan dengan zink.
4.        Larutan Kalium Iodida : dalam larutan yang bersifat asam, iod memisah :
Sb5+ + 2I- ↔ Sb3+ + I2
Jika ion Sb5+ terdapat berlebihan, kristal-kristal iod memisah dan mengapung di atas permukaan larutan. Bila dipanaskan, muncul uap lembayung iod yang khas. Jika regensia ditambahkan berlebihan, terbentuk ion-ion tri-iodida coklat, yang menapis warna kuning dari ion heksaiodoantimonat (III):
Sb5+ +9I- → [SbI6]3- + I3-
C.       Timah (Sn)
Timah adalah logam putih perak, yang dapat ditempa dan liat pada suhu biasa, tetapi pada suhu rendah menjadi getas karena berubah menjadi suatu modifikasi alotropi yang berlainan. Logam ini melarut dengan lambat dalam asam klorida encer dan asam sulfat encer, dengan membentuk garam-garam timah (II) (stano):
Sn + 2H+ → Sn2+ + H2
a.         Reaksi-Reaksi ion Timah (II) 
1.        Hidrogen Sulfida : endapan coklat timah (II) sulfida, SnS, dari larutan yang tak terlalu asam (misalnya dalam asam klorida 0,25-0,3M atau pH kitra-kira 0,6). Endapan larut dalam asam klorida pekat ( perbedaan dari arsenik (III) sulfida dan merkurium (II) sulfida); juga larut dalam [(NH4)2Sx] kuning, tetapi tidak dalam larutan amonium sulfida [(NH4)2S] yang tak berwarna dengan membentuk tiostanat. Jika larutan amonium tiostanat ini diolah dengan asam, akan menghasilkan endapan timah (IV) sulfida, SnS2.
Sn2+ + H2S → SnS↓ + 2H+
SnS↓ + S22- → SnS32- ↓ + H2S↓
Timah (II) sulfida praktis tak larut dalam larutan basa alkali; maka jika larutan kalium hidroksida yang digunakan untuk memisahkan golongan IIA dan golongan IIB, timah harus dioksidasikan ke keadaan kuadrivalennya dulu dengan hidrogen peroksida, sebelum diendapkan dengan hidrogen sulfida.
2.        Larutan narium hidroksida : endapan putih timah (II) hidroksida, yang larut dalam alkali berlebihan :
Sn2+ +2OH- ↔ Sn(OH)2
Sn(OH)2↓ + 2OH- ↔ [Sn(OH)4 ]2-
dengan larutan amonia diendapkan timah (II) hidroksida putih yang tak larut dalam amonia berlebihan.
3.        Larutan merkurium (II) klorida : endapan putih merkurium (I) klorida (kalomel) terbentuk, jika sejumlah besar reagensia ditambahkan dengan cepat :
Sn2+ + Hg2Cl2 → Hg2Cl2↓ + Sn4+ + 2Cl-
Tetapi jika ion timah (II) terdapat berlebihan, endapn berubah jadi abu-abu terutama dengan pemanasan, karena tereduksi lebih lanjut menjadi logam merkurium :
Sn2+ + Hg2Cl2 → 2Hg↓ + Sn4+ + 2Cl-
4.        Larutan bismut nitrat dan natrium hidroksida : endapan hitam logam bismut.
2Bi(OH)3 ↓ + 3[Sn(OH)4]2- → 2Bi↓ + 3[Sn(OH)6]2-
5.        Zink logam : timah yang mirip karet busa mengendap dan melekat pada zink. Jika zink ini terletak di atas lembaran tipis platinum, seperti diuraikan dalam reaksi :
2Sb3+ + 3Zn↓ → 2Sb↓ + 3Zn2+
Dan larutan sedikit asam, timah akan mengendap sebagian di atas zink dalam bentuk seperti spon (seperti karet busa) tetapi tidak menodai platinum. Endapan ini harus dilarutkan dalam asam klorida pekat, dan diuji dengan uji merkurium (II) klorida.
b.        Reaksi-reaksi ion Timah (IV)
1.        Larutan Hidrogen Sulfida : endapan kuning timah (IV) sulfida, SnS2 dari larutan asam encer(0,3M). Endapan larut dalam asam klorida pekat ( perbedaan dari arsenik (III) dan merkurium (II) sulfida ), dalam larutan hidroksida logam-logam alkali dan juga dalam amonium sulfida dan amonium polisulfida. Timah (IV) sulfida kuning mengendap, setelah larutan diasamkan.
Sn4+ + 2H2S → SnS2↓ + 4H+
SnS2↓ + S2- → SnS32-
SnS2↓ + 2S2- → SnS32- + S32-
SnS32- + 2H+ → SnS2↑ + H2S↓
Tak timbul pengendapan timah (IV) sulfida bila ada serta asam oksalat, karena terbentuknya ion kompleks yang stabil tipe [Sn(C2O)4 (H2O)2]4-; ini menjadi dasar dari suatu metode pemisahanantara stibium dan timah.
2.        Larutan natrium hidroksida : endapan putih seperti gelatin, yaitu timah (IV) hidroksida, Sn(OH)4, yang larut dalam zat pengendap yang berlebihan, dengan membentuk heksahidroksostanat (IV).
Sn4+ + 4OH- → Sn(OH)4
Sn(OH)4 ↓ + 2OH- ↔ [Sn(OH)6]2-
Dengan amonia dan dengan larutan natrium karbonat, diperoleh endapan yang serupa, yang tetapi tak larut dalam reagensia berlebihan.
3.        Larutan merkurium (II) klorida : tak ada endapan (perbedaan timah (II) ).
4.        Logam besi : mereduksi ion timah (IV) menjadi ion timah (II) :
Sn4+ + Fe → Fe2+ + Sn2+
Jika potongan-potongan besi ditambahkan pada larutan, dan campuran disaring, ion timah (II) dapat dideteksi dengan reagensia merkurium (II) klorida. Hasil yang serupa diperoleh dengan mendidihkan larutan dengan tembaga atau stibium.
5.        Uji kering :
a.         Uji pipa tiup : semua senyawa timah bila dipanaskan dengan natrium karbonat, sebaiknya dengan disertai dengan kalium sianida, di atas arang memberi butiran-butiran logam timah yang putih dan dapat ditempa, yang tak menodai kertas. Sebagian logam ini teroksidasi menjadi timah (IV) oksida, terutama pada pemanasan yang tinggi, yang membentuk kerak putih di atas arang.
b.        Uji manik boraks : manik boraks yang telah diwarnai biru muda oleh runutan garam tembaga menjadi berwarna merah mirah (ruby) jernih dalam nyala reduksi, jika ditambahkan sangat sedikit saja timah.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Kation golongan II sub golongan Arsenik yaitu, Arsenik (III), Arsenik (V), Stibium (III), Stibium (V), Timah (II) dan Timah (IV).
2.      Reagensia yang digunakan pada uji kation golongan II adalah H2S.
3.      Ion sub golongan Arsenik mempunyai sifat amfoter.
4.      Pada uji kation golongan II sub golongan arsenik memili warna larutan dan warna endapan tertentu.
5.      Unsur arsenik tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer tetapi larut dengan mudah dalam asam nitrat encer.
6.      Stibium adalah logam putih keperakanyang mengkilap dan melebur pada 630C.
7.      Stibium tak larut dalam asam klorida dan dalam asam sulfat encer.
8.      Dalam asam sulfat pekat yang panas stibium melarut perlahan-lahan dengan membentuk ion stibium (III).
9.      Timah adalah logam putih perak yang dapat ditempa dan dilihat pada suhu biasa tetapi, pada suhu rendah menjadi getas karena berubah menjadi sebuah modifikasi alotropi yang berlainan.
10.  Timah melarut dengan lambat dengan asam klorida encer dengan membentuk garam-garam timah (II).







LAMPIRAN
Jawaban pertanyaan.
1.        Muhammad sodikin
Mengapa pada kation arsenik (V) harus dilakukan pengasaman supaya memperoleh endapan?
Jawab : Seperti halnya hubungan antara pH dan Ksp dimana semakin kecil ph (asam) maka kelarutan tinggi dan sebaliknya. Arsenik diasamkan sehinnga mendapatkan endapan karena adanya ion ion senama sehingga terbentuklah endapan.
2.        Ira sari
Mengapa pada kation arsenik (V) endapan Ag3AsO4 larut dalam asam dan dalam amonia tetapi tak larut dalam asam asetat?
Jawab : Hal ini dikarenakan jika endapan Ag3AsO4 jika direaksikan dengan asam akan membentuk larutan H3AsO4 dan akan membentuk senyawa kompleks 3[Ag(NH3)2]+ jika direaksikan dengan amonia sedangkan pada asam asetat tidak.
3.        Sofiani abdilah
a.       Mengapa pada reaksi AsO33- + I3- +H2O → AsO43- + 3I- + 2H+
dapat balik?
Jawab : Reaksi ini dapat balik, dan akan mencapai kesetimbangan karena adanya ion I- dalam jumlah yang banyak (yang berasal dari disosiasi KI) akan menggeser kesetimbangan ke arah pembentukan KI yang tak terdisosiasi (yaitu ke arah ruas kiri).  
b.      Mengapa pada reaksi Sb3+ + 2Zn↓ → Sb↓, hanya menghasilkan endapan Sb? Zn kemana?
Jawab : Pada reaksi tersebut, yang terjadi adalah 2Sb3+ + 3Zn ↓ → 2Sb ↓ + 3Zn2+, maka Zn itu tidak membentuk endapan. Zn tetap ada, tetapi ia tidak mengendap dan hanya dalam bentuk ion-ion di sekitar larutan.



DAFTAR PUSTAKA

Vogel.1990.BUKU TEKS ANALISIS ANORGANIK KUALITATIF MAKRO DAN SEMIMIKRO  EDISI KE LIMA.Jakarta : PT.Kalman Media Pustaka

Singgah di perjalanan PLBN ARUK-SAJINGAN bunga di PLBN